Tampilkan postingan dengan label CEO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CEO. Tampilkan semua postingan

23 Maret 2011

Anak 10 Tahun Jadi CEO Perusahaan Bernilai Rp. 4 M

Hannah Altman
Ada kisah sukses yang cukup mengundang kagum dibuat bocah perempuan kelas lima SD di Amerika Serikat. Namanya adalah Hannah Altman yang sekarang berumur 10 tahun. Pada pagi hari, Hannah Altman menjalankan tugasnya sebagai pelajar. Pada malam hari, dia menjadi CEO untuk perusahaan keluarga bernilai USD500 ribu (Rp4 miliar lebih). Seperti apa kisah suksesnya?

Hannah bertugas mengawasi situs online-nya, Hannah's Cool World. Situs ini menjual berbagai alat untuk anak seperti penutup pensil, penghapus, risleting dekoratif, dan berbagai mainan dan hadiah.

Hannah’s memiliki 12 ribu pelanggan di dunia, dan telah mengirimkan produk ke Italia, Israel, Norwegia, Spanyol, Australia dan Selandia Baru. Saat diluncurkan pada 2009, situs ini menjual 250 ribu penutup pensil seperti dikutip dari Huffingtonpost, Selasa (22/3/2011).

Hannah's Cool World adalah bagian dari IBeOn, perusahaan yang dimiliki orangtua Hannah, Rick dan Lauren Altman. Nama situs orangtua Hannah adalah CoolZips, yang menjual ritsleting dekoratif buatan tangan untuk tas, jaket, ransel, boneka binatang dan sejenisnya.

Kisah sukses Hannah dimulai pada 2009. Saat itu, Hannah dan orangtuanya sedang pergi ke restoran. Hannah melihat mesin penjual otomatis penutup pensil. Dia terpaku dan mendesak ayahnya agar membeli penutup pensil dalam jumlah besar. Namun Rick menolak permintaan itu karena menilainya hanya buang-buang uang. Namun karena Hannah terus mendesak, Rick pun rela membeli.

Petualangan Hannah pun dimulai. Dia ingin memiliki sebuah situs, untuk menjual penutup pensil. Tidak ingin meredam semangat kewirausahaan anak, Rick dan Lauren setuju. Mereka membuat situs bernama Hannah's Cool World dan membeli beberapa iklan Google sehingga pembeli bisa menemukannya ketika mengetik “penutup pensil”. Ternyata, ada pembeli yang tertarik.

Di lain waktu, ketika keluarga ini melewati mesin penjual otomatis, sang ayah, Rick menanyakan kepada Hannah, “Coba lihat barang apa yang menarik minatmu.”

Penjualan penutup pensil dan mainan serta barang lucu dari Hannah's Cool World yang meningkat, menginspirasi Rick menjadikannya bisnis full time. Pada Mei 2010, Rick berhenti dari pekerjaannya untuk bekerja dengan Lauren dan Hannah.

Meski Hannah harus bekerja keras, dia tidak kehilangan masa kanak-kanak. Warga West Bloomfield, Michigan ini menghabiskan waktu untuk bisnis keluarga selama lima jam dalam seminggu, atau satu jam dalam sehari setelah sekolah.

Tugas utama Hannah adalah mengecek secara online untuk mempelajari barang baru, produk yang sedang in yang berpeluang untuk dijual di situsnya. Terkadang, dia membantu untuk memenuhi pesanan atau menyelesaikan keluhan pembeli. Meski memiliki dua profesi, Hannah mengaku tidak merasa istimewa.

“Saya tidak membahas soal itu (pekerjaannya sebagai CEO) di sekolah. Ketika aku bermain dengan teman-teman, mereka melihat mainan yang berbeda di mana saja, apa yang menurut kami keren,” kata Hannah.

Meski sudah mendapat mendapat gaji hingga enam digit, Hannah tetap diperlakukan sederhana oleh orang tuanya.

“Kami akan memberikan uang untuk beberapa hal seperti membeli gitar. Tapi kami berusaha menyimpannya di bank. Bila Anda berusia 10 tahun dan memiliki perusahaan sendiri, dan Anda mampu menghasilkan uang, maka Anda akan menginginkan semuanya,” pungkas Lauren.

Sumber : Okezone.com

21 Maret 2011

Dick Costolo, CEO Twitter yang Dulu Anak Pemalas

CEO Twitter, Dick Costolo
Jejaring sosial Twitter memang popularitasnya sangat tinggi. Ternyata tidak banyak yang mengetahui kehidupan CEO Twitter Dick Costolo yang dulunya adalah seorang anak pemalas.

“Saya adalah anak yang pemalas. Dulu, saya memang berolahraga namun hanya baseball maupun basket di SMA. Hanya permainan biasa. Saya hanya bermain satu kali pertandingan dalam satu tahun sewaktu SMA. Hanya itu,” kata Costolo, memulai kisahnya.

Lahir pada 1963 di Detroit, Costolo menghabiskan masa kecil yang menyenangkan bersama adik laki-laki dan adik perempuannya. Hingga ia akhirnya lulus dengan gelar sarjana di bidang ilmu komputer dari University of Michigan dan meraih gelar S2 di University of California, Berkeley.

Memiliki ayah yang bekerja sebagai ilmuwan komputer, Costolo mengaku mendapatkan kecintaan akan dunia IT darinya.

“Ayah saya seorang ilmuwan komputer yang bekerja di Pontiac. Tidak seperti orang kebanyakan di Detroit yang mencari nafkah di industri otomotif, ia memilih bekerja di departemen penyortir data. Jadi, ia seorang maniak komputer. Inilah mengapa saya memiliki kecintaan yang sama,” ujar Costolo.

Costolo muda ternyata juga terlibat dalam dunia teater. Selama masa awal menempuh ilmu di University of Michigan. Saking cintanya, setelah lulus ia sempat memutuskan untuk tidak menerima tawaran pekerjaan dari perusahaan teknologi, malah pindah ke Chicago untuk bekerja di grup komedi improvisasi.

Dick Costolo mengambil alih posisi Evan Williams sebagai CEO Twitter pada Oktober 2010. Pada 2004, ia bersama dengan Eric Lunt, Steve Olechowski dan Matt Shobe mendirikan perusahaan manajemen bagi operator ‘FeedBurner’. Karena perusahaan itu cukup sukses, FeedBurner dibeli oleh Google pada 2007 sehingga Costolo secara tidak langsung menjadi pegawai Google.

Pada Juli 2009, ia meninggalkan Google untuk bergabung dengan Twitter pada September 2009 sebagai Chief Operating Officer (COO), meskipun 2010 diumumkan jabatan baru Costolo sebagai CEP hanya sementara namun sejalannya waktu, Evan Williams mengumumkan Dick Costolo sebagai CEO Twitter terbaru.

Berbicara soal ambisi masa depan kepada The Guardian, Costolo mengaku ingin menciptakan alat yang mampu menyediakan konten bagi siapapun di manapun berada.

“Di masa depan, kata online akan menjadi sesuatu yang sangat menakjubkan bagi media. Saya pikir nantinya akan muncul sebuah perpustakan universal online yang dapat mendistribusikan konten di mana saja. Inilah alasan mengapa saya tidak berada di dunia komedi lagi,” kata Costolo santai.

Sumber : inilah.com

17 Februari 2011

CEO Appple Steve Jobs Sakit Parah

CEO dan pendiri Apple Steve Jobs dikabarkan tengah terbaring dengan kondisi kritis, karena digerogoti oleh panyakit kanker pankreas yang dideritanya kembali. Bahkan kabarnya, umur Jobs tinggal enam minggu lagi.

Majalah National Enquirer membeberkan foto terbaru Jobs yang terlihat lemah dengan tubuh yang sangat kurus. Terlihat juga, bobot Jobs pun turun drastis. Sebelumnya, memang Jobs menyatakan cuti karena masalah kesehatannya. Walaupun tidak disebutkan cuti karena masalah kanker pankreas, namun beberapa rumor menyebutkan penyakit lama Jobs kambuh lagi.

Sementara itu, foto terakhir Jobs belum dirilis di dunia maya sehingga belum berpengaruh terhadap harga saham Apple. Sebelum sakit Jobs turun dari 79 kilogram, menjadi 58 kilogram. Rambut Jobs juga terlihat makin tipis dan habis, ini adalah tanda-tanda dia melakukan kemoterapi untuk mengobati penyakit kanker.

Namun seperti diketahui, Jobs sangat mencintai pekerjaanya di Apple. Bahkan di saat sakit pun dia masih sempat memikirkan pekerjaan dan perusahaanya.

"Saya sangat mencintai Apple dan berharap kembali sesegera mungkin," kata Jobs, seperti dikutip Daily Mail, Kamis (17/2/2011).

Sementara itu salah satu dokter yang merawt Jobs, Samuel Jacobson mengatakan Jobs mendekati akhir hayat. "Saya mengatakan dia memiliki waktu enam minggu," kata Jacobson.

"Dia juga telah kelihatan kehilangan massa otot di tubuhnya, yang menunjukkan kondisinya terus turun," tandasnya.

Sumber : okezone.com

21 Januari 2011

CEO Google Lengser

Dalam satu dekade terakhir, Google Inc. membuat perombakan besar-besaran pada sistem manajemen perusahaan. Salah satu pemicunya adalah mundurnya Eric Schmidt dari posisinya sebagai Chief Executive Officer (CEO) Google kemarin. Kedudukan Schmidt digantikan Larry Page yang sebelumnya menjabat sebagai President of Technology Google.

"Salah satu tujuan utama saya adalah untuk menjadikan Google sebagai perusahaan besar yang gesit dan memiliki semangat," kata Page seperti dikutip The New York Times, hari ini.

Google memang telah tumbuh menjadi perusahaan yang sangat besar. Lantaran terlalu besar, perusahaan ini dianggap menjadi sangat birokratis dan kurang lincah dalam mengembangkan bisnisnya. Situasi di perusahaan itu lama-kelamaan sangat berbeda dengan kondisi perusahaan para pesaingnya, seperti Facebook dan Twitter yang dipimpin orang-orang muda yang bersemangat.

Page yang kini berusia 38 tahun itu akan mulai memimpin pada April mendatang. Sedangkan Schmidt akan menduduki posisi baru sebagai Google Executive Chairman.

Kendati kepemimpinan di Google silih berganti, perusahaan yang memiliki 24 ribu karyawan ini masih menjadi tempat favorit pilihan para pencari kerja untuk berkarya. Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, Google telah kehilangan puluhan insinyur dan orang di jajaran eksekutif senior, seperti Sheryl Sandberg yang sekarang menjadi Chief Operating Officer Facebook, dan Tim Armstrong yang sekarang menjadi kepala eksekutif AOL.

Di akun Twitter, Schmidt menulis saat ini Google tidak perlu lagi pengawasan dari orang-orang tua. "Sudah waktunya bagi Larry untuk menjalankan semua ini dan saya percaya dia sudah siap," katanya.

Sumber : Tempo

11 Januari 2011

Makan Pagi Bersama CEO

Bos tertinggi di perusahaan tempat Anda bekerja apakah mengenal anda sebagai karyawan biasa? Anda barangkali mengenal bos tersebut, walau pun tidak secara langsung dan dari jauh. Sebaliknya, bos sangat mungkin tidak mengenal Anda. Mengenal nama Anda pun niscaya tidak, kendati perusahaan tempat Anda bekerja hanya memiliki kurang dari 100 orang. Apa lagi jika Anda bekerja di perusahaan yang mempunyai ribuan karyawan. Bisa jadi, di hadapan bos tertinggi, Anda hanyalah angka.

Banyak pimpinan perusahaan yang tidak pernah berbicara langsung dengan staf di jenjang bawah, sekalipun satu kali saja dalam lima tahun ia menjadi CEO. Ketiadaan waktu menjadi satu alasan yang kerap dikemukakan. “Kalau saya mesti berbicara secara personal dengan setiap pegawai, berapa hari mesti saya habiskan untuk itu?” ujar seorang dirut.

Bertemu dan berbicara dari hati ke hati dengan pegawai dianggap pemborosan. Sebagai gantinya, sang dirut memilih untuk bertemu dengan ratusan orang sekaligus dalam suatu ruangan untuk menyampaikan perubahan kebijakan. Sekali bertemu, keputusan direksi tersampaikan. Efisien, menurut mereka. Namanya bisa pengarahan, briefing, atau apapun. Yang menyampaikan pun mungkin bukan direksi, melainkan manajer terkait.

Para pimpinan perusahaan yang berpikir seperti ini melupakan satu hal, bahwa pegawai-apapun jabatannya-”juga manusia”. Bob Seelert, pimpinan puncak perusahaan periklanan kelas dunia, Saatchi & Saatchi, sangat memahami pentingnya sentuhan kemanusiaan ini dalam hubungan antara pimpinan dan karyawan yang tidak menempati posisi manajer, yang jarang sekali berbicara langsung dengan direksi. Steerlet merasakan betul bahwa sebagai CEO ia tidak cukup hanya kerap bertemu dengan jajaran direksi dan manajer senior.

Dua kali seminggu, Seelert mengadakan kegiatan rutin yang ia sebut “Sarapan Bersama Bob”. Ini merupakan acara sarapan bersama antara Seelert dan 400 orang karyawan di kantor pusat Saatchi & Saatchi. Tentu saja ia mempertimbangkan soal efisiensi waktu. Namun, dengan tujuh orang setiap kali sarapan, dua kali seminggu, Seelert telah bertemu dengan seluruh karyawan dalam waktu 29 minggu.

Sarapan bersama CEO perusahaan merupakan kesempatan langka bagi karyawan. Melalui sarapan bersama, Seelert berusaha mengenal karyawannya lebih dekat. Dalam kesempatan seperti ini, ia bukan hanya berbicara mengenai beberapa hal pokok dari persoalan perusahaan, seperti kebijakan yang dia ambil dan terapkan, tapi juga mencoba mengetahui apa hobi karyawannya, anaknya sekolah di mana. Ia sendiri juga menceritakan ihwal keluarganya, kegemaran mereka melakukan perjalanan, dan bayak hal yang bersifat pribadi.

Dari sarapan inilah, Seelert menyerap harapan pegawai terhadap perusahaan. Ia menangkap perubahan-perubahan yang diinginkan oleh karyawannya, langsung dari mulut mereka, bukan melalui para manajernya. Ia juga menggali apa yang disukai oleh karyawan dari perusahaan dan apa yang mereka inginkan untuk diubah.

Lewat acara “Sarapan Bersama Bob”, Seelert telah memangkas jalur komunikasi antara karyawan dan pimpinan perusahaan yang lazimnya memakan waktu lama. Ia bisa menangkap aspirasi karyawan yang selama ini terabaikan oleh para manajernya. Seelert mengatasi kepelikan birokrasi. Pengambilan keputusan mengenai hal tertentu juga dapat dilakukan lebih cepat.

Karyawan merasa senang dengan pendekatan Seelert dalam memperlakukan mereka. Cangkir kopi bertuliskan “Bob sudah sarapan bersama saya” menjadi kenangan tersendiri yang dipajang di meja kerja. Efek personalitas hubungan yang manusiawi ini terbukti membangkitkan spirit karyawan Saatchi & Saatchi dan mendongkrak produktivitas dan memacu kreativitas mereka.

Dari kisah tentang kecerdikan Seelert kembali kepada Anda. Sebagai karyawan, pernahkah Anda punya kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati dengan pimpinan puncak perusahaan dan tanpa rasa cemas bakal dipecat Anda dapat mengajukan pertanyaan seperti: “Pak, mengapa gaji bersih Anda per bulan mencapai Rp 300 juta?”

08 Januari 2011

Indra Nooyi, CEO Wanita No 1 di USA

Indra Nooyi
Bukan hal yang baru bagi seorang wanita mengelola bisnis. Namun menjadi 'businesswoman' yang berpengaruh tentu tak banyak wanita bisa meraihnya.

Salah satu wanita berpengaruh adalah Indra Nooyi, yang menduduki rangking pertama dari 50 most powerful women in business oleh Majalah Fortune. Dia mengalahkan para eksekutif bisnis wanita berpengaruh lainnya di Amerika Serikat. Lantas, siapakah sesungguhnya Indra Nooyi?

Indra Nooyi adalah Chairman dan CEO PepsiCo, perusahaan makanan dan minuman besar dunia. Beberapa unit usaha Pepsi yaitu Quaker, Pepsi-Cola, Tropicana, dan Gatorade, dan membuat makanan kemasan di 200 negara. Dengan pendapatan US$60 miliar, Pepsi Co mempekerjakan 285 ribu orang di seluruh dunia.

Nooyi merupakan arsitek utama dari strategi pertumbuhan PepsiCo. Ia menjabat sebagai Chairman dan CEO pada 1 Oktober 2006. Dia merancang strategi global perusahaan lebih dari 1 dekade dan memimpin restrukturisasi, termasuk divestasi restoran YUM! menjadi sukses, akuisisi Tropicana dan merger dengan Quaker Oats.

Sebelum menjadi CEO, ia menjadi presiden dan Chief Financial Officer mulai 2001. Ia bertanggung jawab mulai dari keuangan, strategi, proses bisnis, platform perusahaan dan inovasi.

Dia lulusan Madras Christian Colleh, menapat gelar MBA dari Indian Institute of Management di Calcutta, dan Master of Public and Private Management dari Universitas Yale.

Namun sesungguhnya perjuangan ibu dua putri ini sungguh luar biasa. Nooyi yang lahir di Madras India 1955 ini tumbuh di kalangan kelas menengah dan mendobarak aturan konservatif.

Ia bergabung dengan tim cricket wanita, ia juga bahkan bermain gitar dalam band-nya yang semuanya wanita pada saat belajar di Madras Christian College. Setelah mendapatkan gelar sarjananya dalam bidang kimia, fisika, dan matematika, ia melanjutkan mendaftar di Indian Institute of Management di Calcutta.

Setelah bekerja di beberapa perusahaan di India, ia lalu hijrah ke Amerika untuk belajar di Amerika Serikat, dan diterima di Yale University Graduate School of Management di New Haven. Yang mengejutkan, orang tuanya setuju dan membiarkan dia pindah ke Amerika. Padahal, pada 1978, tidak pernah terdengar bahwa seorang gadis India terbang jauh menuntut ilmu ke negeri seberang.

Untuk berjuang di Amerika, ia harus bekerja sebagai resepsionis di malam hari. Ia mengaku mengerjakan seluruh pekerjaan di musim panas dengan menggunakan kain sari karena tidak mampu membeli pakaian. Bahkan ketika dia pergi wawancara di perusahaan konsultan bisnis bergengsi, ia menggunakan kain sari karena tak mampu membeli setelan baju kerja.

Di Amerika ia bekerja perusahan konsultan bergengsi, Boston Consulting Group pada 1980, dan berbagai proyek perusahaan internasional, ia bekerja ke Motorola pada 1986 dan menjadi eksekutif senior. Kepemimpinannya membuat ia dilirik oleh Kepala General Electric Jack Welch dan CEO PepsiCo Wayne Calloway, namun ia memilih bekerja di Pepsi.

Ia lalu menjadi penentu strategi utama Pepsi. Ia bukan sekedar mendesak PepsiCo membangun kembali identitas dan aset, namun ia juga berpengaruh dalam sejumlah keputusan penting. Ia negosiator ulung dengan membuat kesepakatan tingkat tinggi. Pepsi lalu memutuskan untuk memisahkan divisi restorannya pada 1997, dan membuat KFC, Pizza Hut dan Taco Bell menjadi perusahaan terpisah.

Ia juga menjadi kepala deal maker untuk dua akuisisi penting yaitu membeli perusahaan jus jeruk Tropicana sebesar US$3,3 miliar pada 1998 dan Quaker Oats sebesar US$14 miliar.

Dengan kesuksesan itu, Nooyi dipromosikan menjadi kepala keuangan pada 2000. Itu adalah jabatan tertinggi wanita India diantara perusahaan di Amerika. Setahun kemudian, ia diberi jabatan presiden direktur.

11 Oktober 2010

Twitter CEO Steps Down

Twitter co-founder Evan WilliamsEvan Williams has stepped down after becoming the CEO when co-founder Jack Dorsey left the company, appointing former COO Dick Costolo in his place, effective immediately.

Williams had this to say in a blog post following the change:

"Growing big is not success, in itself. Success to us means meeting our potential as a profitable company that can retain its culture and user focus while having a positive impact on the world. This is no small task. I frequently reflect on the type of focus that is required from everyone at Twitter to get us there."

This led to a realization as we launched the new Twitter. I am most satisfied while pushing product direction. Building things is my passion, and I've never been more excited or optimistic about what we have to build.This is why I have decided to ask our COO, Dick Costolo, to become Twitter's CEO. Starting today, I'll be completely focused on product strategy"

In an interview with TechCrunch, Williams also said "I've always thought of myself as more of a product guy."

Williams and Costolo first met after they sold their respective startup companies to Google. You may be familiar with those companies; Williams created a blogging tool called Blogger, which he sold to Google in 2003. Four years later, Costolo sold his own startup, the online advertising tool Feedburner.

Costolo formally joined Twitter in September 2009. after having served as the group product manager at Google.

“When I insisted on bringing Dick into the COO role a year ago, I got a lot of questions from my board. But I knew Dick would be a strong complement to me, and this has proven to be the case. During his year at Twitter, he has been a critical leader in devising and executing our revenue efforts, while simultaneously and effectively making the trains run on time in the office," said Williams in his blog posting.

“Given Dick’s track record as a three-time successful CEO, I’m confident we can make this a smooth transition.”

During Williams' time as CEO, Twitter has grown from 20 employees to 300, from 3 million registered users to over 165 million, and from 1.25 million tweets per day to 90 million.