Tampilkan postingan dengan label pesawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pesawat. Tampilkan semua postingan

15 Juni 2011

Kecelakaan Pesawat Bisa Karena iPad?

Jika anda di penerbangan pasti sudah sering mendengar peringatan dari pramugari dan crew pesawat bahwa dilarang mengaktifkan ponsel selama penerbangan. Ternyata larangan mengaktifkan ponsel dalam penerbangan semakin gencar dikampanyekan karena resiko bahaya yang timbul akibat ponsel. Seperti apa?

Sinyal ponsel dapat mengganggu sinyal penerbangan. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mengatakan, keberadaan perangkat elektronik portabel apapun, termasuk ponsel, dapat membahayakan penerbangan.

Lembaga ini melaporkan bahwa antara 2003–2009 ada 125 penerbangan yang mengadukan gangguan pada kontrol penerbangan, perangkat pendaratan, dan sarana komunikasi pesawat. Sebanyak 75 peristiwa dari 125 laporan itu diyakini kru pesawat disebabkan oleh alat komunikasi elektronik.

Penasihat Boeing, Dave Carson, mengatakan radiasi sinyal perangkat elektronik memang dapat mengacaukan sensor pesawat yang terdapat di area penumpang.

Sinyal itu akan semakin kuat saat pesawat dalam keadaan terbang. Misalnya saja dua laptop yang menyala dalam pesawat yang sedang terbang, dapat membuat jam pesawat berputar berbalik arah, mematikan alat pembaca GPS, dan membuat informasi detail ketinggian pesawat bergerak tidak teratur.

Carson mengatakan, keberadaan ponsel meningkatkan risiko bahaya terutama pada pesawat model lama. Kabar buruknya, seperti dikutip dari Crunchgear, perangkat komunikasi elektronik paling berbahaya bagi penerbangan adalah smartphone iPad, yang diikuti oleh iPhone dan BlackBerry.

Sumber : inilah.com

26 Maret 2011

Stardust, Pesawat Pemburu Komet yang Tutup Usia

Stardust
Pesawat pemburu komet, Stardust sudah 12 tahun berjasa untuk pengetahuan tentang komet. Pada Kamis lalu Stardust mengakhiri misinya untuk selamanya karena bahan bakarnya sudah habis. Bagaimana perjalanan pesawat tersebut?

Dengan satu klik pada mouse, Sandy Freund Kasper mengirimkan perintah ke pesawat pemburu komet tanpa awak milik NASA, Stardust, untuk membakar seluruh bahan bakarnya. Perintah ini memulai sebuah rangkaian pemberhentian operasi Stardust yang telah berjasa untuk ilmu astronomi selama 12 tahun.

"Rasanya seperti mengucapkan selamat jalan pada seorang teman," kata Allan Cheuvront, program manager Stardust dari perusahaan Lockheed Martin. Dia terlibat dengan Stardust sejak 1996, saat megaproyek itu masih berupa desain.

Cheuvront menambahkan, "Stardust adalah pesawat luar biasa. Dia selalu mengerjakan apa yang kami perintahkan. Hasilnya, selalu sempurna dan memuaskan."

Diluncurkan pada 1999, Stardust telah menyelesaikan misi utamanya pada 2006. Ketika itu, ia mengirimkan sampel kecil dari partikel komet Wild 2 ke Bumi via tabung parasut.

Stardust menjalankan misi terakhirnya pada Kamis lalu. Dengan menembakkan pendorong sampai bahan bakar hidrazinnya habis. Dari jejak pembakaran di bawah 2,5 menit, para ilmuwan mengetahui secara akurat berapa bahan bakar yang masih tersisa. Pada akhirnya, perhitungan tersebut dapat membantu desain dan operasi pesawat generasi berikutnya di masa depan.

"Perhitungan untuk menganalisis data bahan bakar memakan waktu beberapa hari," kata Jim Neuman, mission operations manager yang juga bekerja untuk Lockheed Martin. Dia kerap membuat dan mengoperasikan sejumlah pesawat satelit NASA.

Dari ruangan besar di Lockheed Martin, Denver-AS, Freund Kasper yang bertanggung jawab penuh atas Stardust, siap mengirimkan perintah ke pesawat tanpa awak itu.

Sebelum dia memberikan instruksi, Cheuvront mengumpulkan delapan hingga sembilan insinyur lain di ruang kerja. Mereka diberi label "Power", "Thermal", "Propulsion", dan beberapa peran lain. Masing-masing menunggu giliran untuk melakukan tugasnya.

Dia pun menghampiri Don Brownlee, kepala peneliti pada misi utama Stardust lima tahun silam, untuk mengambil sampel komet Wild 2. "Ini pengalaman sangat indah dan luar biasa," kata Brownlee pada Freund Kasper.

Pada pukul 16:41 waktu setempat, Freund Kasper melesatkan menginstruksi pada Stardust untuk mulai mengeksekusi misi pemberhentian ini. Sekitar 42 menit kemudian - waktu yang ditempuh untuk menyampaikan pesan ke Stardust yang terletak 93 juta mil dari Bumi dan mengirimkan responsnya kembali ke Bumi - para peneliti melihat api yang berkobar-kobar di layar komputer besar.

Saat bahan bakar habis terbakar, Stardust kehilangan kemampuan untuk menjaga antenanya agar tetap menunjuk ke bumi. Akhirnya, ruang kontrol kehilangan kontak raiod pada pukul 15:33 waktu setempat.

Tanpa bahan bakar, fungsi panel surya Stardust tidak akan berrfungsi dengan baik. Sekali baterainya terkuras, pesawat itu akan mati selamanya.