Tampilkan postingan dengan label cyber crime. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cyber crime. Tampilkan semua postingan

05 Agustus 2011

Target Baru Hacker Adalah Instansi dan LSM

Pada kurun waktu terakhir ini ternyata sudah lebih dari 70 perusahaan, lembaga pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di seluruh dunia sudah masuk target hacker. Para ahli memiliki dugaan kuat bahwa serangan berasal dari China. Seperti apa?

Dalam satu laporan, firma keamanan McAfee mengatakan, misi lima tahun yang melibatkan banyak korban termasuk PBB, Komite Olimpiade Internasional, Departemen Energi dan Laboratorium Penelitian serta hampir dua lusin kontraktor pertahanan dan korbannya tersebar di lebih dari selusin negara.

Sebanyak 49 negara dari 72 negara target, semuanya diidentifikasi terletak di Amerika Serikat (AS). Data yang tercuri termasuk rahasia nasional yang dijaga ketat, kode sumber, arsip email, rencana negosiasi dan rincian eksplorasi minyak baru serta lelang lapangan gas.

VP riset ancaman McAfee Dmitri Alperovitch mengaku belum mengetahui akan dipakai untuk apa data curian tersebut. Namun, jika sejumlah kecil data itu digunakan untuk bersaing dengan perusahaan lain akan mengakibatkan ancaman ekonomi besar-besaran pada perusahaan-perusahaan individual dan industry juga keseluruhan negara yang menghadapi prospek penurunan pertumbuhan ekonomi.

Laporan ini muncul setelah munculnya serangan-serangan cyber pada serangkaian perusahaan dan badan pemerintahan penting, termasuk Sony, Lockheed Martin dan Central Intelligence Agency. Bulan lalu, Kementerian Pertahanan mengaku disusupi hacker yang masuk jaringan kontraktor dan mencuri 24 ribu data militer. Serangan ini menjadi pelanggaran data paling dahsyat yang dialami Pentagon hingga kini.

Alperovitch mengatakan, laporan temuan ini merupakan motivasi yang berbeda dari kepuasan keuangan yang dicari langsung oleh banyak penjahat online. “Musuh ini termotivasi kelaparan besar-besaran pada rahasia dan kekayaan intelektual,” katanya.

Alperovitch mengatakan, serangan ini bukanlah hal baru dan sebagian besar korban telah memperbaiki virus komputer yang menyusahkan mereka. Ia mengaku, McAfee memperoleh akses ke server para penyusup dan mengumpulkan semua catatan hingga kembali ke 2006.

Alperovitch menjelaskan, serangan ini dilakukan menggunakan metode hacking umum, termasuk ‘phishing tombak,’ hacker mendapat akses ke jaringan melalui email yang dikirim ke target. Laporan ini menemukan, serangan cyber ada juga difokuskan pada kelompok-kelompok nirlaba politik, termasuk organisasi Barat tak dikenal yang fokus mempromosikan demokrasi.

Selama hampir dua tahun, para hacker menargetkan salah satu organisasi berita utama AS di biro perusahaan New York dan Hong Kong. Laporan itu tak menyebutkan nama outlet beritanya. Meski begitu, Washington Post mengutip para ahli, organisasi yang diserang adalah Associated Press.

Sayangnya, firma keamanan tak mengidentifikasi siapa yang berada di balik serangan cyber ini. Meski begitu, pemerintah asing bisa jadi dalang serangan ini dengan alasan untuk keuntungan komersial seperti Komite Olimpiade Internasional. Namun, pakar keamanan cyber James A. Lewis di Center for Strategic and International Studies mengatakan, kemungkinan pelakunya adalah China.

Menurutnya, hanya lima atau enam negara yang memiliki kemampuan untuk mengupah para mata-mata cyber dalam skala ini namun daftar target mencerminkan kepentingan China lebih dari negara lain. “Bukti menunjuk ke China karena siapa lagi yang akan memata-matai Taiwan?,” ujarnya.

Hal ini bukan kali pertama korban serangan menunjuk China sebagai pelakunya. Tahun lalu, Google mengumumkan, hacker China mencuri kode sumber perusahaannya. Kemudian awal tahun ini, Google mengklaim, hacker berbasis di China mencoba masuk ke akun Gmail pejabat pemerintah AS, aktivis China dan wartawan asing.

Lewis mengatakan, China fokus untuk memperoleh kekayaan intelektual melalui hacking guna memberi perusahaannya keunggulan kompetitif. Selain itu, ia juga mengatakan, China selalu menjadi pihak yang dipersalahkan karena Negara itu tak pandai menutupi jejak. “Kami banyak menangkap hacker China karena mereka memang tidak ahli,” ujarnya.

Pada konferensi pers Juni, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hong Lei mengatakan, pemerintah China ‘kukuh menentang’ hacking komputer. Serangan Hacker merupakan isu internasional di mana China juga jatuh menjadi korbannya, katanya.

Dalam laporan, firma keamanan ini menjuluki serangan cyber yang terjadi ‘Operation Shady RAT’. “Masalah ini memiliki skala besar yang mempengaruhi hampir tiap industri dan sektor ekonomi berbagai negara,” kata Alperovitch. Satu-satunya organisasi yang tak masuk ancaman ini adalah negara yang tak memiliki hal berharga atau menarik untuk dicuri, tutupnya.

Sumber : Inilah.com

23 Juni 2011

Siapakah Teroris Cyber yang Gemparkan Dunia?

Ryan Cleary
Siapa yang mengira ternyata seorang remaja berumur 19 tahun Ryan Cleary dijuluki teroris Cyber. Betapa tidak, di usianya saat ini dia mampu memasuki situs CIA yang dijaga super ketat oleh ahli-ahli IT nomor satu di Amerika Serikat. Siapakah bocah ini?

Siapakah Ryan Cleary yang meretas stus-situs pemerintah dari kamar tidurnya yang remang-remang itu?

Remaja yang tergabung dalam kelompok LulzSec ini menyerang komputer CIA, Senat Amerika Serikat (AS), dan Sony dari dalam kamarnya. Remaja pemilik nama online ViraL ini ditangkap di rumahnya di Essex oleh pasukan gabungan Scotland Yard dan FBI. Ryan digambarkan sebagai pribadi pendiam yang ‘hidup dalam dunia maya’.

Selain itu menurut ibu Ryan, Rita (44), remaja ini mengidap agrofobia dan defisit gangguan perhatian. “Ryan tak pernah meninggalkan kamarnya selama empat tahun,” katanya.

Remaja 19 tahun ini bahkan enggan meninggalkan kamar remangnya yang berisi komputer dengan dua monitor, pendingin ruangan, TV rusak dan ranjang.

Remaja ini mengidap gangguan bipolar, “Ryan termasuk tipe penyendiri, ia hanya keluar kamar jika ingin ke kamar mandi. Bahkan, untuk makan malam, saya meninggalkannya di depan kamar,” papar Rita. "Saya tak mengerti mengapa Ryan bisa terlibat kasus ini, ia bahkan tak keluar kamar sama sekali," lanjutnya.

Remaja 19 tahun ini mengidap ADHD dan gangguan emosi perilaku. Saat berusia lima tahun, Ryan pernah dikeluarkan dari sekolah karena perilakunya itu. Saat berusia 10 tahun, Ryan dikirim kembali ke sekolah khusus di Colchester.

Rita menggambarkan putranya sebagai pribadi introvert, “Saya sangat khawatir. Ia bisa melukai atau membunuh dirinya sendiri. Ia sangat pintar, namun memiliki kebutuhan yang rumit."

Saat ayah, Neil, dan kakak, Mitchell (22), menanyai apa yang ia perbuat dengan internet, Ryan menjawab sedang bermasin game. Ryan sering mengeluarkan jargon dan obrolan cyber yang tak dimengerti keluarganya.

Mengabaikan perlengkapan massal komputernya, kamar Ryan layaknya kamar remaja laki-laki lain pada umumnya. Ada poster wanita menempel di dinding.

"Ryan bukan tipe orang yang senang dengan kekerasan. Ia lebih memilih tinggal dalam kamar," kata kakak remaja ini. Remaja ini terancam ekstradisi dan penjara 60 tahun.

Anehnya seperti ditulis Dailymail, LulzSec tak mengakui Ryan sebagai anggotanya, “Ryan Cleary bukan anggota kami. Kami hanya ‘menanam’ satu server di rumahnya."

Sumber : Inilah.com

09 Februari 2011

Menjadi Hacker Sekarang Lebih Mudah

Sekarang kalau kita browsing di internet banyak sekali tool untuk menjadi hacker. Perangkat tersebut mudah ditemukan dan juga mudah digunakan. Kalau untuk mencoba system sih sebetulnya tidak ada masalah menjadi hacker. Tapi kalau niatnya adalah merusak system dan mencari keuntungan pribadi nah itu sudah menjurus kriminal.

Symantec Corp. mengumumkan laporan terbarunya bertajuk Report on Attack Toolkits and Malicious Websites. Dari laporan tersebut diketahui bahwa perangkat untuk membuat serangan cyber kini semakin mudah ditemukan dan digunakan.

Perangkat untuk membuat serangan ini juga makin diminati oleh para penjahat tradisional yang tidak memiliki keahlian teknis dalam kejahatan dunia maya. Dengan adanya perangkat tersebut, mereka bisa lebih mandiri, terorganisir dan mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

“Di masa lalu, hacker harus menciptakan sendiri program penyerang mereka dari awal. Proses yang kompleks ini membatasi jumlah penyerang sehingga hanya terdiri dari sekelompok kecil penjahat cyber yang sangat terampil,” kata Stephen Trilling, Senior Vice President, Symantec Security Technology and Response.

Seperti dikutip dari Secure Computing, 8 Februari 2011, Trilling menyebutkan, toolkit serangan tersebut membuat para pemula sekalipun dapat dengan mudah memulai sebuah serangan cyber.

“Kami memperkirakan bahwa kegiatan kejahatan cyber akan meningkat,” kata Trilling. “Akibatnya, peluang orang-orang biasa yang mengakses Internet untuk menjadi korban, menjadi lebih besar,” ucapnya.

Karena serangan cyber menjadi lebih menguntungkan, popularitas toolkit untuk membuat serangan juga meningkat secara dramatis dan mengarahkan pembuat kit untuk membangun perangkat pembuat serangan yang lebih kuat dan canggih.

“Kit serangan tersebut saat ini sering dijual dengan model berlangganan dengan update berkala, beserta komponen-komponen yang memperluas kemampuan kit ini, dan layanan dukungan,” kata Trilling. “Para penjahat cyber secara rutin mengiklankan layanan-layanan instalasi, penyewaan akses terbatas ke konsol kit, dan menggunakan tool anti pembajakan komersial untuk mencegah penyerang menggunakan tool tanpa membayar,” ucapnya.

Dari data-data yang dikumpulkan oleh Symantec, beberapa toolkit pembuat serangan yang paling umum adalah MPack, Neosploit, ZeuS, Nukesploit P4ck, dan Phoenix.

Sumber : Vivanews